
"aku tenung lenyapnya dia dari balai berlepas
mata menebal
kelopak panas
aku menapak pergi
penglihatan mengeruh
manusia sekeliling hilang wajah
hilang erti
lutut aku longgar sendi
tidak berjalan tapi berjalan
berjalan dalam ketidaktahuan
turun eskalator seolah terbang
dua jongkong besi pemberat mencangkuk rantai pada hati
jejongkong diseret ikut langkah kaki
bongkok
aku berat namun terapung
berjalan perlahan dalam udara
kiri kanan aku semuanya dia
genggam tangan tisu basah, makin lama makin meriah
berhenti di tandas
katup jamban, duduk
dakap tubuh, sedu
tandas bergema mata menyanyi
bibir kumat-kamit selawat nabi
langit memekat
tunggu keretapi pulang
dingin malam salju tidak ada belas
mata akur diam; takut air jadi ais
di stesen langgar seribu bahu
dalam gerabak Tenang menegur
hulur sapu tangan pada hidung merah
kucup ubun-ubun si muka sembab
“kun fayakun.
jadi,
maka jadilah.”
Wani Ardy
Parramatta"










2 note(s) from you:
hehe,..i thought u yg tulis..but this is nice.
owh i tak se-brilliant ini.. :) i love her writings
Post a Comment